Potret kerasnya hidup penambang emas di Brazil yang gajinya tidak sampai 50 ribu per hari

Di Indonesia, tambang emas terbesar terletak di Papua yaitu tambang Grasberg. Saham kepemilikan tambang ini yang paling besar dimiliki oleh Freeport (67,3%), sedang pemerintah Indonesia hanya memiliki sekitar 9,3%. Tambang ini juga merupakan tambang terbesar di dunia.

Selain di Indonesia, dulu ada sebuah tambang besar di Brazil. Namanya Serra Pelada. Tapi sejak tahun 1986, tambang ini ditutup dan kini meninggalkan sebuah danau kecil yang berpolusi.

Awal penemuan tambang emas

Pada 1979, Genesio Ferreira da Silva, seorang petani di daerah terpencil Brasil menemukan sebongkah emas di lahannya. Ia kemudian menyewa seorang geologis untuk melihat apakah ada emas lagi di sana. Dalam beberapa hari saja, rumor ini meluas. Perburuan emas di lahan itu pun dimulai. Setidaknya sekitar 10 ribu orang mengais-ngais demi menemukan bongkahan emas lainnya.

Hingga pada Mei 1980, sekitar 4000 penambang mulai bekerja di lahan ini. Mereka memiliki pekerja kasar yang disebut dengan garimpeiros. Mereka akan mengumpulkan tanah berlumpul ke karung seberat 10 kg.

Serra Pelada Gold Mine In Brazil's Para State
Garimpeiros via Getty Images/Robert Nickelberg

Karung-karung ini dibawa dari lahan penambangan menuju bibir tambang untuk disaring yang letaknya berkaki-kaki di atas lahan. Dan para garimpeiros membawanya tanpa alat alias dengan mengangkutnya.

Gold Miners in Brazil
Serra pelada via Corbis/Stephanie Maze

Kehidupan para pekerjanya

Mirisnya, di pertambangan yang luas dan makmur, para pekerja tidak hidup dengan layak. Tidak hanya bekerja mereka bahkan mandi di tepi lubang tambang ini.

Serra Pelada Gold Mine In Brazil's Para State
via Robert Nickelsberg/Getty Images

Tak hanya pria muda, pria tua pun bekerja di ‘ladang emas’ ini.

Serra Pelada Gold Mine In Brazil's Para State
via Robert Nickelsberg/Getty Images

Pada masa kejayaannya, 100 ribu garimperios pernah dipekerjakan di tambang emas ini. Tapi jumlah ini termasuk 60 hingga 80 orang yang tewas tanpa sebab dan penyelesaian yang jelas tiap bulannya.

Serra Pelada Gold Mine In Brazil's Para State
via Robert Nickelsberg/Getty Images

Yang lebih mengenaskan, para pekerja ini hanya dibayar sekitar 2 hingga 3 dollar setiap harinya.

Serra Pelada Gold Mine In Brazil's Para State
via Robert Nickelsberg/Getty Images

Namun begitulah hidup para garimperios hingga alam memutuskan waktu mereka sudah selesai.

Gold Miner at Serra Pelada
via Robert Nickelsberg/Getty Images

Akhir masa jaya yang ditaklukkan alam

Pada tahun 1986, banjir datang dan melanda lahan pertambangan. Operasi pertambangan terpaksa ditutup. Walau begitu, sekitar 44,5 ton emas sudah berhasil dikumpulkan selama 6 tahun.

page
via Robert Nickelsberg/ Getty Images

Tapi jumlah ini tidak termasuk emas-emas yang diselundupkan dan juga dijual di pasar gelap.

Antiga cava da serra pelada
via panoramio.com

Kini, tempat yang dulunya adalah pertambangan besar berubah menjadi danau kecil dan berpolusi. Semoga pertambangan yang ada di Indonesia tidak mengalami hal serupa ya. Amin.