Petuah dan makna tersembunyi di bilangan jawa yang wajib kamu tahu

Suku Jawa adalah suku paling besar yang ada di Indonesia. Pada tahun 2011 saja, diperkirakan jumlah orang Jawa ada sekitar 100 juta orang. Belum lagi mereka yang tersebar di luar negeri seperti 6 negara berbahasa Jawa yang pernah Ngehits bahas sebelumnya. Tapi dari sekian banyak orang Jawa, ternyata tidak semuanya menggunakan bahasa Jawa lho. Dari sebuah poling yang dilaksanakan pada tahun 1990-an disimpulkan bahwa sekitar 70% orang Jawa yang berbahasa Jawa secara eksklusif, tanpa dicampur dengan bahasa Indonesia.

Sama seperti suku lain di Indonesia, suku Jawa juga memiliki penyebutan bilangan yang berbeda dibanding bahasa Indonesia. Dan ketika bilangan-bilangan tersebut dikaitkan dengan umur, ada petuah dan makna tersembunyi yang mungkin kamu belum banyak tahu. Apa sajakah itu?

1. Umur 11 sampai 19 tahun

Atau disebut juga dengan angka welasan, mulai dari 11 (sewelas), 12(rolas) hingga 19(songolas). Mengapa dalam bahasa Jawa 11 tidak diucapkan dengan sepuluh siji, misalnya? Mengapa harus diganti dengan welas?

young javanese via zetaboards com
via zetaboards.com

Ternyata welasan dalam bilangan welas ini mengandung petuah welas asih atau belas kasih. Ketika ada di usia 11 hingga 19, biasanya seseorang akan memasuki masa remaja atau akil baligh menurut Islam. Dan di umur inilah biasanya rasa belas kasih, sayang dan mungkin cinta mulai tumbuh.

2. Umur 21 sampai 29 tahun

Pun yang terjadi di angka bilangan 21 hingga 29 tahun. Bahkan pengucapan bilangan di angka 20-an ini termasuk beragam. Kamu akan menemukan selikur (21), rolikur (22) dan bukannya rong puluh siji dan seterusnya, hingga selawe atau 25 di dalamnya. Apakah makna dari likur? Likur ternyata adalah kependekan dari LIngguh KURsi atau duduk di kursi. Di umur 20-an ini biasanya seseorang sudah mulai punya ‘tempat’ yaitu berupa pekerjaan.

Karina gets ready for her Balinese wedding the next day
via recordmakers.photography

Tapi kenapa 25 tidak disebut dengan limanglikur tetapi selawe? Ingat kalau 25 selalu disebut sebagai umur ideal untuk menikah baik untuk laki-laki atau perempuan? Ternyata selawe dan stereotip umur ideal menikah ini berkaitan. Selawe diartikan sebagai SEneng-senenge LAnang lan WEdok atau masa paling bahagia untuk laki-laki dan perempuan. Kebahagiaan itu apalagi kalau bukan karena pernikahan. Yah walau tidak semua orang Jawa menikah di umur ini, tapi umur 21-29 adalah umur yang pas untuk menetapkan diri pada pekerjaan dan juga pasangan hidup.

3. Umur 50

Dalam bahasa Jawa, 50 tidak disebut dengan limang puluh melainkan seket. Ternyata ini juga mengandung arti sendiri. Seket disebut merupakan singkatan dari SEneng KEThonan atau suka memakai kethu atau tutup kepala seperti kopiah. Kalau dalam umur manusia, 50 pasti sudah terbilang tua, rambut mulai memutih karena itu mulai pakai penutup kepala.

via wikispaces com
via wikispaces.com

Tak hanya menutupi rambut yang mulai beruban, memakai kopiah atau kethu juga diartikan bahwa pada umur ini manusia akan mulai mendekatkan diri pada Tuhan, memperbanyak ibadah. Ketika umur likuran adalah waktu untuk mencari bekal di dunia, maka umur 50 merupakan waktu untuk memikirkan akhirat.

4. Umur 60

Sama seperti 50 yang tidak disebut limang puluh, 60 dalam bahasa Jawa juga memiliki penyimpangan sebutan yaitu suwidak atau sewidak. Penyimpangan ini ternyata juga memiliki petuah dan makna. Sewidak konon adalah singkatan dari SEjatine WIs wayahe tinDAK atau seharusnya sudah waktunya untuk ‘pergi’.

old javanese via blogspot com
via idocrase-indonesia.blogspot.com

Pada usia ini seseorang sudah makin tua dan mungkin makin dekat waktunya untuk bertemu dengan Yang Kuasa. Walau umur seseorang hanya Tuhan yang tahu kapan habisnya, namun ketika sudah mencapai umur sewidak seseorang diharapkan sudah siap dan matang untuk bertemu penciptanya.

Siapa sangka, ternyata di balik bahasa Jawa terutama pada angka-angkanya terdapat petuah dan makna tentang hidup yang pasti dijalani semua orang. Apakah kamu orang Jawa? Wajib SHARE artikel ini ya!